Perkembangan Kognitif

by 10.58 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Studi sistematis tentang perkembangan anak mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada awal abad 20. Penelitian penelitian yang dilakukan pada zaman ini lebih bersifat deskriptif dan lebih dititik beratkan pada ciri ciri khas yang terdapat secara umum , golongan golongan  umur serta masa masa perkembangan tertentu. Seperti seorang anak yang bisa memperlihatkan kemampuan mengucapkan kata katanya, kemampuan mengartikan sesuatu dan perkembangan lain yang sudah dan biasa dicapainya.
Kecenderungan untuk mendeskripsikan gejala-gejala perkembangan manusia secara hati-hati dan mendetail tersebut merupakan suatu tahap yang penting dalam perkembangan suatu disipin ilmu. Tetapi tujuan ilmu pengetahuan bukan sekedar mendiskripsikan suatu gejala, melainkan juga memberikan penjelasan tentang gejala tersebut.[1]
Pembahasan mengnai perkembangan manusia dititikberatkan pada usia dalam kaitannya dengan perubahan perubahan fisik, kognitif dan social yang terjadi sepanjang rentan kehidupan. Perhatian terhadap perkembangan kogntif sepanjang rentan kehidupan indifidu pertama kali dirintis oleh penelitian Jean Piaget dari Swiss dan teori yang dikembangkan oleh Lev S. Vygotsky dari Rusia.
Dalam hal ini kami akan membahas tentang “Perkemangan Kognitif” menurut J. Piaget dan L. S. Vygotsky. Di usia anak anak dan implikasi perkembangan kognitif dalam dunia pendidikan.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan perkembangan kognitif ?
2.      Bagaimana tahap-tahap perkembangan kognitif ?
3.      Implikasi dalam pendidikan?



C.    Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menambah khasanah pengetahuan tentang psikologi perkembangan dalam perspektif islam.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Kognitif
1.      Cognition (Kognisi)
“Kognisi” memang hampir sama dengan “penalaran” dan “berpikir logis” (yang mungkin tidak secara sadar). Dengan menggunakan “pemrosesan kognitif”-lah kita bisa mengubah input indrawi menjadi pengetahuan tentang dunia external. Sebelum 1950-an istilah “penalaran” dan “berpikir”  telah digunakan secara luas oleh para psikolog yang tertarik  pada aspek pemfungsian psikologis, tetapi sejak akhir 1950-an istilah “Kognitif” mendominasi dengan kemunculan psikologi kognitif.[2]

2.      Perkembangan Kognitif
a.       Jean Piaget (1896-1980)
Jean Piaget (1896-1980) adalah psikolog perkembangan dari swiss yang tertarik dengan pertumbuhan kapasitas kognitif manusia. ia memulai bekerja di laboratorium Alfred Binet di Paris, tempat pengujian kecerdasan modern berasal. Piaget memulai memeriksa bagaimana anak anak tumbuh dan berkembang dalam kemampuan berpikirnya. Ia menjadi semakin tertarik dengan bagaimana cara anak-anak memperoleh kesimpulan dari pada apakah mereka menjawab dengan benar atau tidak. Jadi bukannya mengajukan pertanyaan dan menilai mereka benar atau salah,  Piaget justru memberikan pertanyaan kepada anak anak itu untuk menemukan logika di balik jawaban mereka. Melalui pengamatan yang terskema pada anak anaknya sendiri dan anak anak lainnya, Piaget menyusun teori perkembangan kognitif.

Jean Piaget mengajarkan bahwa perkembangan kognitif adalah Hasil gabungan dari kedewasaan otak dan system syaraf, serta adaptasi pada lingkungan kita. Ia menggunakan lima istilah untuk menggambarkan dinamika perkembangan kognitif. Tersebut:
1.      Skema. Hal ini menunjukan struktur mental, pola berfikir yang orang gunakan  untuk mengatai situasi tertentu di lingkungan. Misalnya, bayi melihat benda yang mereka inginkan, sehingga mereka belajar menangkap apa yang mereka lihat. Mereka membentuk skema yang tetap dengan situasi.
2.      Adaptasi adalah proses menyesuaikan pemikiran dengan memasukkan informasi baru ke dalam pemikiran individu. Piaget (dalam Rice, 2002) mengatakan bahwa anak-anak menyesuaikan diri dengan dua cara, yaitu: Asimilasi dan akomodasi.
3.      Asimilasi berarti memperoleh informasi baru dan memasukkannya ke dalam skema sekarang dalam respon  terhadap stimulus lingkungan yang baru.
4.      Akomodasi meliputi penyesuaian pada informasi baru dengan menciptakan skema yang baru ketika skema yang lama tidak berhasil. Tapi kemudian belajar belajar bahwa beberapa anjing untuk pertama kalinya (asimilasi), tapi kemudian belajar bahwa beberapa anjing aman untuk dipiara dan lainnya tidak (akomodasi). Ketika anak anak memperoleh banyak informasi, mereka menyusun pemahamannya tetang dunia secara berbeda.
5.      Equilibration didefinisikan sebagai kompensasi untuk gangguan ekternal. Perkembangan intelektual menjadi kemajuan yang terus menerus bergerak dari satu ketidak seimbangan structural keseimbangan struktur yang baru yang lebih tinggi.[3]

b.      Lev Vygotsky (1896-1934)
            Vigotsky adalah seorang filsuf Rusia yang idenya mempuyai peran penting dalam memahami budaya, interaksi social dan peranan bahasa dalam perkembangan kognitif. Ia dipengaruhi oleh Pavlov dan beranggapan bahwa perkembangan secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan social. Istilah yang sering digunakan adalah : dampak social, scaffolding, and zone of proximal development (ZDP).
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif  piaget, kontruktifisme social yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan social maupun fisik. Penemuan atau discovery  dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks social budaya seseorang. Inti kontruksivisme vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan social dalam belajar.
Interaksi social dipelajari anak dari orang yang kemampuan intelektualnya diatas kemampuan si anak seperti orang lain di atas umurnya atau orang dewasa di sekitarnya. Guru berperan sebagai pengarang dan pemandu kegiatan siswa, praktek dan mendorong siswa yang mampu untuk bekerja mandiri.
            Pembelajaran berdasarkan scaffolding yaitu memberikan ketrampilan yang penting untuk pemecahan masalah secara mandiri seperti diskusi dengan siswa, praktek langsung dan memberikan penguatan. Guru yang memberikan bantuan penuh secara bertahap justru akan mengulangi pemahaman siswa misalnya mengajari anak mengendarai sepeda adalah bukan dengan member  secara teoritis tetapi langsung memperaktekan menaiki sepeda.
Zone of proximal defelopment(ZPD) adalah wilayah dimana anak mampu untuk belajar dengan bantuan orang yang kompeten area ini berada antara kemampuan anak belajar sendiri dan apa yang masih mampu di upayan dengan bantuan orang lain. Penilaian belajar dilakukan dengan ceklist, review teman dan pertanyaan.[4]




B.     Tahap-tahap perkembangan kognitif
Piaget menguraikan empat tahap perkembangan kognitif: Sensorimotor, preoperational, concrete operational dan formal operational. Tahapan perkembangan kognitif menguraikan ciri khas perkembangan kognitif tiap tahap dan merupakan suatu perkembangan yang saling berkaitan dan berkesinambungan.[5]
1.      Tahapan perkembangan kognitif piaget[6]:
1)      Periode Sensorimotor (0-2 tahun)
Dicirikan dengan fase interkordinasi progresif dari sekema menjadi lebih kompleks dan terintegrasi. Fase pertama, respon respon bersifat bawaan berupa reflek- reflek yang tidak disengaja seperti menghisap. Fase selanjutnya skema skema reflek mulai terkontrol secara sadar. Ketika skema skema awal menghisap, melihat, dan menggenggam sesungguhnya terinterkoordinasi, bayi tidak hanya menggenggam saja atau melihat saja, tetapi melihat sesuatu kemudian menggenggamnya.[7]
2)      Periode Praoperasional (2-7 tahun)
Prilaku anak berubah dari dependensi tindakan menuju pemanfaatan representasi mental dalam tindakan tindakannya-atau bisa disebut berfikir[8].
Anak anak mulai memperhatikan hal hal kecil yang tadinya tidak diperhatikan. Dengan demikian anak anak tidak lagi mudah bingung kalau menghadapi benda benda, situasi atau orang-orang yang memiliki unsure yang sama konsepnya menjadi lebih khusus dan lebih berarti bagi dirinya[9]
3)      Periode Operasional konkret
Tahap penyempurnaan tiga ranah penting dalam pertumuhan intelektual, yaitu:
1.      Konserfasi: kemampuan untuk mentaranformasikan sifat objek.
2.      Klasifikasi: melibatkan pengelompokan dan kategorisasi objek objek yang mirip.
3.      Seriasi dan transifitas : dua kemampuan terpisah, namun saling berhubungan. Seriasi melibatkan kemampuan untuk merangkai secara bersamaan serangkaian elemen menurut hubungan tertentu. Dan transivitas berhubungan dengan seriasi.

4)      Periode Operasional formal (Masa remaja dan Dewasa)
Ditandai dengan kemampuan anak untuk memformulasikan hipotesis dan mengujinya terhadap realitas. Anak pada tahap ini mempunyai kemmampuan mengkordinasikan system yang lebih tinggi, individu juga akan bergerak melampaui dunia jasmaniyah dan realitas fisik menuju dunia hipotetik atau realitas abstrak yang lain. Pemikiran abstrak memungkinkan anak mempertimangkan hasil dan konsekuensi dan terikat pada rencana jangka panjang.[10]

Usia
Tahap
Karakteristik
Lahir- 2 th
Sensorimotor
Dunianya terbatas pada saat sekarang dan disini
Belum mengenal bahasa, belum memiliki pikiran, pada masa masa awal
Belum mampu memahami realitas ojektif
2 th– 7 th
Praoperasional
Pikiran bersifat egosentris
Pemikirannya didominasi oleh persepsi
Intuisinya lebih mendominasi dari pada  pikiran logisnya
Belum memiliki kemampuan konservasi
7 th -11 th
Operasional konkret
Kemampuan konservasi
Kemampuan mengklarisifikasikan dan menghubungkan pemahaman tentang angka
Berfikir konkret
Perkemangan pikiran tentang reversibilitas
11 th atau lebih
Operasional formal
Pikiran bersifat umum dan menyeluruh
Berfikir proposional
Kemampuan membuat hipotesa
Perkembangan idealisme yang kuat

2.      Tahapan tahapan dalam perkembangan menurut Vygotsky
Vigotsky menerima tahapan tahapan perkembangan Piaget, namun menolak penekanan pada rangkaian yang ditetapkan secara genetic. Piaget meyakini bahwa pwrkembangan mendahului pembelajaran, sedangkan Vygotsky meyakini pembelajaran mendahului pekembangan.
Perbedaan kedua teori Vygotsky dan Piaget adalah pada sifat dasar dan fungsi wicara. Menurut Piaget, bicara egosentrik (egocentric speech) yang digunakan pada saat “Berfikir dengan (suara) keras” membuka jalan menuju bicaara social, dimana anak mengingat hukuman-hukuman pengalaman dan berbicara untuk tujuan komunikasi . menurut Vygotsky, pikiran anak secara alamiyah dan inheren bersifat social dan egocentric speech sesungguhnya bersifat social, baik dari asal muasalnya, maupun dalam tujuannya. Artinya anak mempelajari egocentric speech dari orang lain dan menggunakanya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Prinsip inilah yang mempresentasikan pemisahan utama diantara kedua teori ini,dan memngungkap teori utama tentang perkembangan anak menurut Vygotsky.[11]
Tahapan dalam perkembangan konseptual  Vygotsky:
1.        Perkembangan konsep tematik, dimana hubungan antar objek dinilai penting.
2.        Pembentukan konsep berantai, (Klasifikasi berubah sesuai proses seleksi).
3.        Pembentukan konsep abstrak, yang mempunyai pembentukan konsep pada orang dewasa.[12]

C.    Implikasi Teori Kognitif Dalam Pembelajaran

Menurut Piaget, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya, yaitu bagaimana anak secara aktif mengkontruksi pengentahuannya. Pengetahuan datang dari tindakan . menurut teori Piaget pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.

Berikut ini adalah implikasi teori Piaget dalam pembelajaran:

1. Memaklumi akan adanya perbedaan invidual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Ditambah cara berfikir anak kurang logis dibanding dengan orang dewasa, maka guru harus mengerti cara berfikir anak, bukan sebaliknya anak yang beradaptasi dengan guru.

2. Pendidikan disini bertujuan untuk mengembangkan pemikiran anak, artinya ketika anak-anak mencoba memecahkan masalah, penalaran merekalah yang lebih penting daripada jawabannya. Oleh sebab itu guru penting sekali agar tidak menghukum anak-anak untuk jawaban yang salah, tetapi sebaliknya menanyakan bagaimana anak itu memberi jawaban yang salah, dan diberi pengertian tentang kebenarannya atau mengambil langkah-langkah yang tepat untuk untuk menanggulanginya.

3. Anak belajar paling baik dengan menemukan (discovery). Artinya di sini adalah agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung efektif, guru tidak meninggalkan anak-anak belajar sendiri, tetapi mereka memberi tugas khusus yang dirancang untuk membimbing para siswa menemukan dan menyelesaikan masalah sendiri.[13]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Perkembangan kognitif adalah Hasil gabungan dari kedewasaan otak dan system syaraf, serta adaptasi pada lingkungan kita. Ia menggunakan lima istilah untuk menggambarkan dinamika perkembangan kognitif yaitu : Skema, Adaptasi, Asimilasi, Akomodasi dan Equilibration. (Jean Piaget)

Empat tahap perkembangan kognitif menurut Jean Piaget: .
Usia
Tahap
Karakteristik
Lahir- 2 th
Sensorimotor
Dunianya terbatas pada saat sekarang dan disini
Belum mengenal bahasa, belum memiliki pikiran, pada masa masa awal
Belum mampu memahami realitas ojektif
2 th– 7 th
Praoperasional
Pikiran bersifat egosentris
Pemikirannya didominasi oleh persepsi
Intuisinya lebih mendominasi dari pada  pikiran logisnya
Belum memiliki kemampuan konservasi
7 th -11 th
Operasional konkret
Kemampuan konservasi
Kemampuan mengklarisifikasikan dan menghubungkan pemahaman tentang angka
Berfikir konkret
Perkemangan pikiran tentang reversibilitas
11 th atau lebih
Operasional formal
Pikiran bersifat umum dan menyeluruh
Berfikir proposional
Kemampuan membuat hipotesa
Perkembangan idealisme yang kuat

B.     Saran
Makalah ini belumlah sempurna, masih banyak kekurangan sehingga memerlukan masukan dari berbagai pihak.




Daftar Pustaka
Desmita. 2008. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya.
Hurlock, Elizabet B. 1980. Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Richards, Graham. 2009. PSIKOLOGI. Yogyakarta: Baca!
Rita Eka Izzati, dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Roberto L. Solso, dkk. 2007. Psikologi Kognitif edisi ke delapanI. Jakarta: Erlangga.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY press.






[1] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung, Rosdakarya, 2010), hlm.18
[2] Graham Richards, PSIKOLOGI, (Yogyakarta, Baca!, 2009).
[3] Rita Eka Izzati, dkk, Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta, UNY Press, 2008)
[4] Sugihartono, dkk, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: UNY press, 2007),  hlm 113-114
[5] Rita Eka Izzati, dkk, Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta, UNY Press, 2008)
[6] Roberto L. Solso, dkk, Psikologi Kognitif, (Jakarta, Erlangga, 2007), hlm. 369
[7] Ibid, hlm. 366
[8] Ibid, hlm. 366
[9] Elisabeth B. Harlock,  Psikologi Perkemangan edisi v, (Jakarta:Erlangga. 1980), hlm. 123
[10] [10] Roberto L. Solso, dkk, Psikologi Kognitif, (Jakarta, Erlangga, 2007), hlm. 366-340.
[11] Roberto L. Solso, dkk, Psikologi Kognitif, (Jakarta, Erlangga, 2007), hlm. 372-373
[12] Roberto L. Solso, dkk, Psikologi Kognitif, (Jakarta, Erlangga, 2007), hlm. 374
[13] Rita Eka Izzati, dkk, Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta, UNY Press, 2008)

ahmad agus prasojo

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net