Safety Merapi Mountain - Expedisi Skripsi - Icebreaking Skripsi and HaveFun Skripsi

by 18.56 1 komentar

Team Joko Dolok Institut
kak Ojo

Kak eka, Kak Togok, Kak Adi, Kak Arief, Kak yuni, kak list, kak fathin, kak ida,



Joko dolok Institut dan pendaki jogja berkoalisi

suasana pasar bubrah jam 8an

kak endi dan kak chris
rekan pendaki dari Purwokerto.


Perjalanan kami mulai dari basecamp, kami melakukan registrasi sebesar Rp. 17.500/anak. Team kali ini kami namai Joko Dolok Institut, karena ide pendakian tercetus dari Rekan-rekan Joko Dolok Institut. Sebelum memulai trek pendakian, kami memulai dengan berdo'a, doa di pimpin oleh rekan Arief selaku navigator. setelah doa usai kami berfoto bersama, dan memulai langkah demi langkah di atas aspal sampai menara new selo, setelah itu kita dihadapkan jalur cor/semen sekitar +-1 km. jalan semen habis, kami menapak di jalanan tanah, jalur melewati perkebunan warga, perkebunan yang membentang menjadi penghidupan warga sekitar, mulia dari tanaman sayuran, palawija sampai tanaman gajah untuk pakan ternak. setelah perkebunan usai, maka hutan mulai menghampar sampai tak terasa sampai di pos bayangan atau pintu gerbang taman nasional gunung merapi. mulai di pos ini kami terbagi menjadi 2 team, team pertama dipimpin navigator, dan diteam kedua kami ber3 menjadi penyisir, dari pos ini mulai trek nanjak/naik, di pertengahan pos bayangan dan pos 1 ada jalur alternatif lajur kiri, dengan  trek landai, hingga nanti di akhir jalur ini naik sampai pos 1, di alternatif ini cenderung sepi dari pendaki karena rimbunnya semak semak dikanan jaur setapak ini, dan jurang di kiri jalan.

kami memilih trek utama yang lumayan naiknya, karena mengikuti jalan air.
ikuti saja jalan air, sampai nanti bertemu batu besar di jalur trek, dibalik batu ini nati kita temui pos satu, kalau menurut papan yang baru dipasang, pos 1-basecamp berjarak 1,5 dengan rincian 1km basecamp sampai pos bayangan dan pos bayangan sampai pos 1 berjarak 0,5 km. di pos ini terdapat shalter untuk istirahat bagi rekan rekan yang menginginkannya.

dari pos 1 trek tanah berganti trek batu yang minim bonus trek landai sehingga di trek ini dibutuhkan kehat-hatian agar tidak terkilir, sampai pos 2, dari pos 2 sampai watu gajah cukup dekat namun bebatuan terjal masih terhampar. sesampainya di watu gajah, bagi yang menginginkan untuk istirahat dan terlindung di balik beatuan atau pepohonan, maka watu gajah pilihan yang tepat untuk mendirikan tenda, namun bagi yang menargetkan pasar bubrah seperti kami, maka melanjutkkan perjalanan dengan trek bebatuan, hingga nanti menjumpai bebatuan kecil/ krikil tandanya sudah mendekati pasar bubrah. peganglah bebatuan sekitar agar kita tidak terpleset di jalur trek ini.

sesampainya di pasar bubrah, kami menjumpai pemandangan yang cukup indah, ratusan tenda sudah meadati area ini bak perumahan padat di daerah perkotaan, namun bercahaya dengan sinar seadanya baik adari kompor maupun senter yang menyala di padu dengan warna tenda menjadi warna warni yang indah. setelah cukup menikmati pemandangan yang terhidang, kami memdirikan tenda di tengah-tengah pasar bubrah. kami sudah tidak kebagian tempat yang strategis yang terlindung dari bebatuan besar. sehingga seadanya tempat yang cukup landai untuk mendirikan tenda.

tiga tenda berdiri dengan kokoh 12 personil telah lengkap, tiba tercium aroma koffe yang begitu nikmat, dan mie hangat telah terhidang, menyumbat perut dari kelaparan yang melanda. setelah kenyang kami istirahat. penulis menjadi pendaki terakhir yang tidur, setelah membersekan peralatan dan alat masak. penulis mengambil matras dan Sleeping bag untuk tidur di luar tenda, tenda yang berdiri kokoh telah terisi penuh, tak enak membangunkan mereka yang sudah lelap, bermaksud menikmati pemandangan malam dan bintang bintang, bertanya pada Tuhan hingga mendoakan yang terkasih, tertidurlah penulis. malang baru berapa menit tertidur hujan rintik tak terasa hingga lebat mebasahi SB, membangunkan penulis, dan berpindah kehalaman tenda yang cukup sempit seadanya untuk menahan hujan membahsahi raga yang mulai menggigil, namun tertidur juga. begitu hujan reda suara merdu panggilan untuk seluruh umat manusia berkumandang. suara adzan? ya adzan, penulis terbangun dan mencari sumber suara  dengan sorot lampu senter. subhanallah, air mata menetes, Alhamdulillah dari ratusan pendaki masih ada yang mempunyai mental baja bukti bahwa Tuhan maha Kuasa. seorang pendaki diujung timur lah yang mengumandangkan adzan subuh.

kami segera bertayamum dan sholat berjamaah di tenda masing masing dengan team yang ada. tidak memungkinkan sentral 1 jamaah karena bebatuan dimana mana dan hawa dingin yang menusuk, serta banyaknya pendaki tidak mencukupi tempat sujjud bersama. kecuali di depan tenda masing masing.

setelah usai sholat, kompor lapangan penulis hidupkan dan memanaskan air untuk menyeduh coffe hitam, untuk menghangatkan pagi.

suara telapak kaki melangkah, tawa kecil meghangatka perjalanan setiap pendaki yang melewati tenda untuk berburu sunrise, malang penulis melihat kesalahan ratusan pendaki memilih jalur naik. jalur berbahaya penuh bebatuan yang bisa mengenai siapa saja.

pendakian kali ini bersifat masal (penulis melihat di daftar selo ada +-600 pendaki) bagi penulis cukup mengerikan, karena begitu hujan reda (subuh di pasar bubrah) pendaki langsung berbaris di jalur paling kanan dan tengah arah puncak, via pasar bubrah.
padahal lajur itu sangat berbahaya karena bebatuan labilnya.
idealnya pendakian via pasar bubrah arah puncak, naik lewat lajur paling kiri yang dominasi pasir dan lajur paling mudah untuk naik puncak merapi.

team kami yang terbagi menjadi 2 kloter pendakian
kloter pertama sudah penulis wanti-wanti (kasih warning) agar lewat lajur paling kiri, namun ternyata mereka menggunakan lajur paling kanan, dengan alasan ikut pendaki lain dan jalur yang ramai. sehingga ada salah satu rekan yang kejatuhan batu, tepatnya (alasan rekan saya) ia menangkap batu yang menggelinding agar tidak mengenai pendaki lain, namun fatal tangan terjepit batu yang di tangkap sehingga sobek dan pendarahan. terimakasih kepada rekan2 yang sudah membantu rekan penulis saat kejatuhan batu di lajur paling kanan. kemarin  begitu sampai jogja langsung di jahit di RS. kondisi terakhir sudah baikan. namun kemarin sempat pusing dan lemas, karena hampir kekurangan darah.

kloter ke dua melakukan pendakian setelah mengistirahatkan rekan (yang terluka di kloter 1), kami melakukan pendakian lewat lajur paling kiri. alhamdulillah lebih cepat dan lebih aman, namun di  perjalanan kami sering mendengar teriakan batu jatuh dari lajur tengah dan paling kanan.

Rekan rekan semua, penulis teringat pernah mendapatkan tips dari pendaki asal kaliurang (maaf saya lupa menanyakan namanya) namun dia bercerita sudah 10x naik merapi. saya ingin share tipsnya.
"Jalur puncak merapi via pasar bubrah terbagi menjadi 3 jalur, kanan, tengah dan kiri. lajur naik adalah yang paling kiri, dan lajur turun adalah tengah dan kanan."

penulis sudah membuktikannya 2x naik puncak merapi, yang paling mudah dan cepat (memangkas waktu 2x lebih cepat dari pada lajur kanan dan tengah yang cenderung gugur dan labil bebatuannya.)

di atas puncak merapi, penulis bertemu dengan rekan sma yang kuliah di daerah pwt. kami bertegur sapa dan canda renyah untuk menghanagtkan suasana. baru sekitar 15 menit, gerimis menyergap bersama kabut tebal nan pekat, beberapa rombangan team penulis, sarankan untuk turun, dan penulis menysul bebrapa yang masih mendekati puncak limas, bekas puncak garuda.
setelah beberapa c memanggil degan kode joko dolok peulis mendengar sahutan dan penulis tunggu di balik bebatuan besar di atas kawah merapi, yang masih malu memperlihatan keindahannya sehingga kabut tebal enggan beranjak, lelah kami menunggu, rintik hujan mulai terasa, rekan yang  berburu mantan puncak garuda telah kembali, kami pun seppakat untuk segera turun sebelum hujan mengguyur kami.pelan, hati hati, waspada bebatuan, saling mengingatkan dan senyum sapaan selalu mewarnai perjalanan turun kami, hingga kami sampai di lift-nya merapi, (naik 1-1,5 jam, maka turun hanya butuh 10-15 menit) dengan mengandalka tumit belakang untuk memainkan lift alam ini, dengan medan pasir sisa erupsi. sekaligus menghilangkan rasa takut dan ragu kami menikmati lift ini.

sesampainya di tenda lagi lagi coffe yang penulis incar pertama kali sebelum roti, susu, madu dan mie instan. Seusai kenyang, [prediksi hujan akhirnya akhirnya kejadian, hujan sebentar cukup membasahi pasar bubrah tempat kami ngecamp.


seusai reda kami langsung berkemas, dan berfoto bersama.
perjalanan pulang kami layaknya festival atau kirab budaya, karena begitu ramainya pendaki yang  turun bersama kami, termasuk 2 anak usia 4 tahunan (predikdsi penulis) ikut turun bersama kami.

perjalanan turun kami diguyur rahmat hujan dari tuhan sehingga melengkapi perjalanan kami, jalur penuh air, becek dimana mana menjadi hal biasa dalam perjalanan ini.

alhamdulillah kami ber 12 selamat dan dapat kembali dengan bahagia juga membawa cerita untuk kalian semua.
merapi, tak pernah bosan kami mendaki.
semoga alam-mu tetap terjaga, marilah para pendaki merapi jaga taman merapi kita bersama, agar tetap indah  kala kita tengok kembali, nanti.

tips dari penulis.
1. jangan tegesa gesa, santai, nikmati dan berhati hatilah.
2. bila naik puncak via pasar bubrah, hindari pembawaan carier/tas yang masih penuh barang bawaan, bila ingn membawa tas, isilah 1 botol air mineral cukup untuk 5-6 pendaki.
3. jangan kencing/ buang air kecil di jalur pendakian, bila ingin buang air kecil, maka carilah tempat yang tidak digunakan untuk ramai pendakian.
agar jalur tetap nyaman, dan tidak berpindah ke jalur yang bermedan sulit.
4. jangan buang sampah sembarangan, termasuk bungkus madu yang menemanimu di pejalanan, bijaklah dengan alam, agar tetap  indah bila kita kembali.
5. jangan segan beritahu jalur mudah dan aman kepada pendaki lain, demi keamanan dan kenyamanan bersama.
6. hindari kegaduhan, dan kata kata kotor demi kenyamanan bersama.
7. jangan memaksakan diri, istirahatlah bila tubuh sudah terasa cape, karena kekuatan dan daya tahan tubuh ada batasnya.
8. lakukanlah persiapan fisik, sebanyak apapun pendakianmu, tubuh tetap ada batasnya, sayangi diri dan bijaklah dengan diri demi keselamatan.
9. bila mendaki bersama sama, pasanglah navigator paling depan, dan penyisir paling kuat di belakang, jangan terlalu jauh terpisah demi keamanan dan keselamatan bersama, dan terakhir jangan lupa senyum dan sapaan hangat buat seluruh pendaki yang kita temui, karena kita semua saudara, bak alam yang sudah ramah dengan kita, telah menyodorkan pemandangan dan kekhasan indahnya lajur pendakian.

salam lestari
from Joko dolok Institut  

"skripsi bukanlah beban, ia nikmat bila kita nikmati"
"sama dengan expedisi kali ini, semuanya butuh pengorbanan, namun bagaimana cara kita menanganinya adalah pilihan. pilihanmu adalah cerminan hidupmu"

kak togok

kak ekak

ahmad agus prasojo

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

1 komentar:

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net